Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.(QS. Al Isra ayat 23)
Tampilkan postingan dengan label JATIDIRI INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JATIDIRI INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 November 2013

MAKNA PAHLAWAN MASA KINI

Bangsa Indonesia setiap tahun merayakan Hari Pahlawan pada 10 November.Walaupun tidak sedikit juga warga masyarakat yang tidak me-ngetahui dan tidak peduli. Pada saat itulah kita mengenang jasa para pahlawan yang telah bersedia mengor-bankan jiwa, raga dan hartanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Tanggal 10 November dipilih sebagai Hari Pahlawan karena pada tanggal tersebut 68 tahun silam para pejuang kita bertempur mati-matian untuk melawan tentara Inggris di Surabaya. Saat itu kita hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya para pejuang menggunakan bambu runcing. Namun para pejuang kita tak pernah gentar untuk melawan penjajah. Kita masih ingat tokoh yang terkenal pada saat perjuangan itu yakni Bung Tomo yang mampu menyalakan semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya radionya. Ruslan Abdul Gani yang meninggal beberapa waktu lalu, adalah salah seorang pelaku sejarah waktu itu.

Setiap tahun kita mengenang jasa para pahlawan. Namun terasa, mutu peringatan itu menurun dari tahun ke tahun. Kita sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Peringatan yang kita lakukan sekarang cenderung bersifat hanya seremonial belaka. Memang kita tidak ikut mengorbankan nyawa seperti para pejuang di Surabaya pada waktu itu.Tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah kita merayakan Hari Pahlawan setiap 10 November.Akan tetapi kepahlawanan tidak hanya berhenti di sana. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Bukankah arti pahlawan itu adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran? Bukankah makna pahlawan itu adalah pejuang gagah berani? Bukankah makna kepahlawanan tak lain adalah perihal sifat pahlawan seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan?Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan. Dalam konteks ini kita dapat mengisi makna Hari Pahlawan yang kita peringati setiap tahun pada 10 November, termasuk pada hari ini. Bangsa ini sedang membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.Kita mencatat beberapa wilayah Indonesia masih dihantui tindakan teror. Kita membutuhkan orang yang berani untuk menangkap pelakunya. Negeri kita sedang dililit kanker korupsi yang sudah mencapai stadium terakhir. Kita membutuhkan orang-orang berani untuk memberantasnya. Seorang ilmuwan pun bisa menjadi pahlawan dalam bidangnya berkat penemuannya yang dapat menyejahterahkan orang banyak. Seorang petugas pemadam kebakaran yang tewas saat berjuang mematikan api yang sedang membakar rumah penduduk adalah pahlawan juga.Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam hidup kita. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Mahasiswa Universitas Trisakti yang tewas ditembak dalam perjuangan reformasi sewindu lalu adalah pahlawan, meskipun negara belum menobatkan mereka sebagai pahlawan.Memang tidak mudah untuk menjadi pahlawan. Mungkin lebih mudah bagi kita menjadi pahlawan bakiak, yaitu suami yang patuh (takut) kepada istrinya. Atau menjadi pahlawan kesiangan, yakni orang yang baru mau bekerja (berjuang) setelah peperangan (masa sulit) berakhir atau orang yang ketika masa perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi setelah peperangan selesai menyatakan diri pejuang.Hari ini kita merayakan Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para pejuang pada masa silam. Kita bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. Itulah pahlawan sekarang. 

Selasa, 05 November 2013

MAKNA TAHUN BARU HIJRIYAH


Seribu lima ratus tahun yang lalu Rosululloh Muhammad SAW, me-mutuskan hijrah dari Mekkah ke Madinah demi me-nyelamatkan islam yang belum banyak pemeluknya. Peristiwa tersebut men-jadi awal penghitungan Tahun Baru Islam, Tahun Hijriah dan tanda mulai bersinarnya Islam. Saat ini kaum muslim tidak perlu berjalan jauh sejauh lebih kurang 500 kilo meter dari Mekah ke Madinah. Kini umat islam bisa beribadah dengan tenang dan khusyu'’berdakwah dengan leluasa serta memakmurkan Masjid tanpa gangguan. Namun sayang kenikmatan yang telah diberikan Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih kurang disyukuri, banyak saudara-saudara kita yang mengaku Islam tetapi malas beribadah, banyak saudara-saudara kita dalam mencari nafkah berpaling dari kehalalan, tidak sedikit yang merasa menjadi pengurus masjid enggan memakmurkan Rumah Allah, hingga masjid kurang bermanfaat bagi umat. Sedang yang muda-muda masih terlena dengan hiburan dunia, mereka tidak mau untuk berdakwah amar makruf nahi mungkar dengan berbagai alasan. Jadinya rata-rata umat di negeri ini kurang cerdas dan masih suka bertikai. Untuk itu semua solusi adalah hijrah HATI dan bukan hijrah FISIK saja. Hijrah dari hati yang sakit menjadi hati yang sehat, mengubah hati yang jelek menjadi hati yang baik. Dalam sebuah Hadits Rodululloh Shollallohu’alaihi wa sallam bersabda: “Ingatlah, bahwa di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh itu dan apabila ia rusak, akan rusaklah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati” (HR. Bukhari-Muslim).
Sedangkan menurut Imam Al Ghoazali, jika ditinjau dari hidup dan matinya hati manusia dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu hati yang sehat, hati yang sakit dan hati yang mati. hati yang sehat adalah hati yang bisa mengajak dan membawa pemiliknya datang menghadap Allah Yang Maha Esa dengan selamat di hari kiamat kelak. Hati yang sehat adalah hati yang selamat dari keinginan hawa nafsu yang menyalahi perintah-perintah Allah SWT, bila ia mencintai sesuatu ia akan mencintainya karena Allah SWT sedang bila ia membenci sesuatu, ia pun akan membencinya karena Allah SWT. Hati yang sakit, adalah hati yang mengandung penyakit orang-orang yang hatinya sakit sangat mudah diperdaya setan. Hati yang sakit mengandung dua unsur, ada rasa cinta kepada Allah SWT, iman, ikhlas, tawakal dan yang sejenisnya yang menjadikannya baik. Namun ada juga yang berselera dengan hawa nafsu, tamak meraih kesenangan mementingkan kehidupan dunia, dengki, takabur dan sifat-sifat buruk lain yang mencelakakan. Sedang hati yang mati, adalah hati yang tidak mengenal Tuhan, tidak mau menyembah dan tidak mau beribadah kepada-Nya. Hati orang-orang seperti ini selalu berjalan mengikuti hawa nafsu. Bila ia mencintai sesuatu ia cinta karena nafsu, sedang bila ia membenci ia membenci juga karena nafsu. Ia telah menjadi budak hawa nafsu, hawa nafsu menjadi tuannya serta mengendalikan dirinya, pola pikirannya hanya pada duniawi.
Setan telah membutakan matanya sera menulikan telinganya, sehingga tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah serta mana jalan ke surga atau jalan ke neraka.
Gambaran tentang siapa saja yang di dalam hatinya ada penyakitnya antara lain, pertama, orang-orang munafik yang ragu-ragu dalam beriman. Kedua, orang-orang yang membangkang, yang tidak mau menerima Alqur’an, bahkan sampai meninggal dalam keadaan kafir. Ketiga, orang-orang yang zalim. Keempat, orang-orang yang kasar hatinya dan suka permusuhan. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan mendatangkan sesuatu penyakit kecuali telah menyediakan obatnya. Setiap orang mempunyai penyakit hati harus berupaya untuk menyembuhkannya, supaya hatinya menjadi sehat.
Sedangkan syarat utama untuk menyehatkan hati adalah taat kepada Allah SWT, yang diimplementasikan dalam perilaku kehidupan sehari-hari, takwa sebagai bukti kepatuhan kepada Allah SWT yang secara langsung juga bermanfaat bagi kesehatan hati.
Menyehatkan hati dapat diwujudkan dalam beberapa tindakan: 
1. Berzikir, mengingat Allah 
Orang-orang beriman wajib banyak berzikir. Berzikir dapat dilakukan sambil berdiri, duduk maupun berbaring. Berzikir merupakan amalan yang disukai Allah SWT (HR. Imam Malik).Zikir adalah amalan yang paling mudah namun mempunyai manfaat yang sangat besar karena Allah SWT selalu mengingat orang-orang yang berzikir. Sedangkan dengan berzikir hati menjadi tenang. 
2. Membaca Alqur’an
Zikir yang paling baik adalah membaca Alqur’an, karena kitab suci ini menyembuhkan berbagai penyakit serta pemberi jalan terang dan kebaikan dunia maupun akhirat. 
3. Sering istigfar
Mohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa-dosa dan kesalahan yang dilakukan. Syaikh Abdul As Salam berkata, “Hendaklah engkau tidak meremehkan istigfar. Meremehkan istigfar berarti engkau meremehkan dosa. Perbanyaklah istigfar. Semoga diantara seratus istigfar yang engkau ucapkan, ada satu istigfar yang diterima oleh Allah SWT. 
4. Rajin berdoa
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.” (QS. Al Mukmin:60). Orang yang mau berdoa berarti masih membutuhkan Allah SWT, berarti tidak sombong. Bukankah sombong termasuk tanda penyakit hati? 
5. Berselawat kepada Rasululloh SAW
Dengan mentaati perintah Allah SWT untuk berselawat kepada rasululloh SAW dengan harapan yang indah agar besok di akhirat bisa dekat dengan beliau, orang yang berselawat menandakan hatinya sehat. 
6. Salat Malam
Sesungguhnya salah yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam atau qiyamul lail” (HR Muslim). Ibadah ini memang agak berat dijalankan namun sangatlah bagus untuk menjaga ketaatan dan kekuatan iman. Orang-orang yang banyak dosa akan merasa sulit melaksanakannya. Imam Hasan Basri pernah berkata, “Seseorang yang berbuat dosa, berat baginya untuk salah malam.”
Saat ini tahun sudah berganti tahun 1434 H berganti ke tahun 1435 H. adalah saat yang tepat untuk melakukan perubahan, perubahan paradigma dan perubahan pola pikir serta perubahan sikap dan perilaku dengan melakukan perjalanan menuju kebaikan, untuk mengharap dan menggapai rida Ilahi dengan berhijrah hati. (ds)


Minggu, 07 Oktober 2012

BAHAYA ROKOK TERHADAP KESEHATAN

Rokok Mentol Penyebab Stroke

Merokok adalah kebiasaan buruk yang mengancam kesehatan jantung dan pembuluh darah. Penelitian terbaru menunjukkan, rokok meningkatkan risiko terkena stroke, dan ancaman terbesar adalah pada mereka yang menghisap rokok mentol. Seperti dimuat jurnal Archives of Internal Medicine, peneliti menyatakan mereka yang memilih rokok mentol cenderung berisiko lebih besar terkena stroke ketimbang penghisap rokok non-mentol. 

Menurut studi para ilmuwan Kanada ini, risiko stroke yang lebih nyata ditemukan pada perokok mentol perempuan dan mereka dari keturunan non-Afrika. Penulis studi itu pun menyarankan agar rokok mentol benar-benar dihindari guna menekan risiko stroke. Dan satu hal yang penting, semua jenis rokok haruslah dihindari karena dapat menimbulkan risiko penyakit. 

“Semuanya memang buruk, semuanya sudah dikatakan. Dari perspektif reduksi bahaya, studi ini menyarankan untuk menghindari rokok setidaknya jenis mentol,” kata Nicholas Vozoris, petugas klinik di St. Michael’s Hospital di Toronto, Kanada. Dalam studinya, Vozoris menggunakan informasi yang diambil dari survei gaya hidup dan kesehatan yang mencakup 5.028 perokok dewasa. Survei itu dilakukan antara 2001 sampai 2008. 

Secara keseluruhan, sebanyak 26 persen responden menyatakan mereka biasa menghisap rokok mentol, dan sisanya menghisap rokok non-mentol. Beberapa ahli berpendapat, mentol mempermudah orang untuk mulai belajar merokok dan lebih sulit untuk berhenti, sebab rasanya menyamarkan kerasnya aroma tembakau. Di antara penghisap rokok mentol, sebanyak 3,4 persen mengatakan mereka pernah menderita stroke. Sementara itu, sebanyak 2,7 persen perokok tanpa mentol terserang stroke. 

Setelah memperhitungkan beberapa faktor seperti jenis kelamin, suku dan usia perokok serta jumlah rokok yang dihisap, Vozoris menyimpulkan bahwa penghisap rokok mentol berisiko dua kali lipat terkena stroke dibandingkan dengan mereka yang merokok non-mentol. Perbedaan tersebut sangat jelas pada kaum perempuan dan perokok dari suku selain Afro-Amerika. 

Di antara peserta studi, stroke tiga kali lebih umum ditemukan di kalangan penghisap rokok mentol. Walau begitu, Vozoris mengatakan studi tersebut tak bisa membuktikan bahwa hanya rokok mentol saja yang mengakibatkan peningkatan resiko stroke, karena ada perbedaan lain yang tak terukur antara penghisap rokok mentol dan tanpa mentol. Studi tersebut juga menyatakan, rokok mentol tidak berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, penyakit paru-paru kronis atau pun serangan jantung dibandingkan dengan rokok standar. 

Presiden American Heart Association (AHA) dan Direktur Bagian Kardiologi di Johns Hopkins University School of Medicine Gordon Tomaselli berpendapat, studi tersebut telah memperlihatkan keterkaitan antara kebiasaan merokok mentol dan risiko stroke, tetapi tidak berhubungan dengan tekanan darah tinggi. Menurut Vozoris, mungkin saja kandungan mentol pada asap rokok memiliki efek yang lebih buruk pada pembuluh darah, terutama pembuluh yang memasok oksigen ke otak. 

Selasa, 04 September 2012

PENDIDIKAN DALAM KACAMATA ISLAM



A. PENDAHULUAN
Di dalam Alqur’an dinyatakan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang adi luhung, karena manusia diciptakan dengan instrumen, fasilitas, dan kelebihan yang lain dibanding makhluk-makhluk selainnya. Penciptaan manusia dengan sebaik-baiknya itu menjadikan manusia makhluk yang termulia di alam semesta, hal itu bisa kita dapatkan keterangannya, dibeberapa ayat Al qur’an, diantaranya, di surat at-tin ayat 4 dan surat al-isra’ ayat 70:لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ4. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا70. Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.Pernyataan dua ayat di atas membuktikan bahwa Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan, salah satu bentuk upaya dalam penciptaan manusia dengan sebaik-baiknya ialah Allah melebihkannya, yang kelebihan itu bersifat penyempurna’an atas ciptaan manusia, dan dari kesempurnaan itu, manusia dijadikan makhluk yang mulia dibanding makhluk yang lain.Tetapi kesempurnaan manusia, selain berindikasi kepada derajat mulia, ternyata juga menjadikan manusia memiliki tanggung jawab, amanah dan tujuan penciptaan yang lebih berat dan besar dibanding makhluk lain. Yaitu manusia akan mempertanggung jawabkan segala fasilitas yang Allah berikan kepadanya, mulai dari panca indra, akal, kesempatan, kemampuan, kekuasaan dan lain sebagainya dengan bentuk tanggung jawab apakah manusia mempergunakannya sesuai dengan tuntunan sang pemilik kelebihan tersebut atau sebaliknya. Letak kesuksesan manusia dalam mengemban amanah ialah seberapa besar ia mencapai tujuan penciptaannya dalam menjalani kehidupan dengan mengoptimalkan segala kelebihan itu.Tujuan penciptaan, dimana manusia harus berupaya mewujudkannya, setidaknya ada dua, yaitu mewujudkan diri menjadi seorang hamba yang taat dan pemimpin yang mengelola bumi dan isinya secara bijaksana sesuai ketentuan Allah swt, hal ini bisa kita ketahui melalui firman Allah di surat az-zariyat 56 dan Al-baqoroh 30 :وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً.......30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." ........Meski terdengar sepele dan terkesan mudah, namun pada kenyataannya tugas yang diemban manusia yang meliputi dua tujuan tadi amatlah susah melihat banyaknya umat-umat terdahulu yang dihinakan oleh Allah karena terlena terhadap kelebihan-kelebihan yang ada, sehingga mengacuhkan tugas yang mereka emban, maka dari itu, perlu adanya upaya untuk mengembangkan segala fasilitas -utamanya akal- agar dapat dioptimalkan mencapai tujuan penciptaan itu bukan menjadi racun yang membunuh diri sendiri.
Salah satu upaya nyata yang dilakukan untuk mengoptimalkan kelebihan-kelebihan itu dalam mencapai tujuan penciptaan yang benar ialah mencari ilmu atau pengetahuan dengan sebanyak-banyaknya utamanya ilmu agama lalu dengan itu mengatur segala aspek yang terdapat dalam diri agar sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki sehingga melahirkan kepribadian, akhlak dan tingkah laku yang baik, mewujudkan insan yang kamil, yaitu insan yang bisa menempatkan diri dan segala kehidupannya sesuai tuntunan Allah yang termaktub dalam Al-qur’an dan as-sunnah. proses pengupayaan itu sering kita sebut sebagai proses pendidikan.Dan pada makalah ini penulis akan menjelaskan peran pendidik serta kedudukannya sebagai salah satu pelaku pendidikan yang menjadi faktor penting keberhasilan proses pendidikan yang melahirkan insan kamil yang kita telah jelaskan diatas. Penulis akan mencoba menganalisisnya menggunakan sudut pandang islam yang tentunya harus berdasarkan dan bersumber pada nash al-qur’an dan as-sunnah.

B. PENGERTIAN PENDIDIK
Sebelum kita masuk pada defenisi pendidik secara etimologis ataupun menurut qur’an dan sunnah, ada baiknya kita lebih memperjelas pengertian pendidikan terlebih dahulu.Istilah pendidikan bisa kita temukan dalam Al-qur’an dengan istilah At-tarbiyah, At-ta’lim dan At-tahdib, tetapi lebih banyak kita temukan dengan ungkapan kata robb. Kata tarbiyah sendiri merupakan masdar dari fi’il robba-yurobbi, yang artinya, memimpin, memiliki mengumpulkan, memperbaiki, menambah, memelihara, mengasuh dan mendidik. Di dalam Alqur’an sendiri, tidak kita temukan scara langsung kata tarbiyah, tetapi ada istilah yang senada dengan tarbiyah tersebut, yaitu kata robb, seperti yg terdapat dalam surat alfatihah ayat 2 dan al isro’ ayat 24:الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alamوَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا24. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil".Ayat di atas menunjukkan luasnya pengertian kata robb, namun kesemua pengertiannya memiliki keterkaitan yang erat. Kata robb bisa menjadi sebuah nama yang hanya mutlak untuk Allah semata, karena kandungan kata robb meliputi yang memiliki, memelihara dan mendidik, dan keseluruhan sifat tersebut merupakan sifat Allah karena Allah satu-satunya zat yang memiliki seluruh Alam dan Zat yang sanggup memeliharanya juga maha berilmu sehingga dia pula yang pantas menjadi pendidik karena luasnya keilmuanNya.Pengertian robb yang terdapat pada ayat kedua pun memiliki dua pengertian, yang pertama adalah mengasihi dan yang kedua adalah mendidik. Jika kita lebih mencermati lagi, mengasihi yang ditunjukkan oleh kata robb dalam ayat tersebut ialah sebuah kasih sayang yang amat luas dan berkesinambungan yang berupa pemeliharaan, perlindungan, pertolongan, pemenuhan kebutuhan dan pengajaran dari segi keinteletualan, etika, moral, adab, pengetahuan kepada kebenaran dan anjuran condong terhadapnya juga pada kejahatan dan anjuran menjauhinya, hal itu diketahui melalui lafadszh “kamaa” (sebagaimana) yang menunjukkan perintah untuk mempersamakan atau menyesuaikan permohonan “mengasihi” kepada “mendidik di waktu kecil”. Dan pendidikan yang orang tua berikan kepada anaknya ketika kecil itu meliputi hal-hal yang telah ada dalam luasnya cakupan kasih sayang yang tertera diatasDari keseluruhan pengertian diatas maka tarbiyah menurut Alqur-an yaitu pendidikan yang tidak hanya pada tahap mengajarkan ilmu semata melainkan pendidikan pada seluruh aspek moral, etika dan akhlak yang bertujuan untuk memelihara dan mengatur berdasarkan kasih sayangMaka tidak salah jika Dr yusuf Qardhawi memberi pengertian pendidikan islam yaitu, pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya.Juga pengertian yang diberikan ahmad tafsir yaitu: sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju kedewasaan, baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba dihadapan khaliqNya dan sebagai “pemelihara” semesta.Beralih pada pembahasan inti kita yaitu pendidik, dalam bahasa arabnya murobbi. Kata murobbi juga merupakan isim fail dari fi’il yang sama dengan kata tarbiyah, yaitu robba yurobbi, yang tentunya maknanya pun sama, bedanya jika tarbiyah merupakan kegiatan proses pendidikan, maka murobbi adalah pelaku pendidikan tersebut, artinya orang yang mendidik atau yang melakukan pendidikan, maka secara etimologis, pendidik dalam islam ialah orang yang mendidik sesuai dengan tuntunan pendidikan islami. pendidikan islami yang dimaksud adalah pendidikan yang telah penulis definisikan pada penjelasan sebelumnya. dari itu, kita dapat mengetahui, bahwa jika kita mendefinisikan pendidik sesuai sudut pandang Al-qur’an, maka kita akan mendapatkan sebuah cakupan yang amat luas dan terperinci dari kata pendidik tersebut, karena pendidik yang dipahami oleh kebanyakan orang hanya seseorang yang mengajar di kelas atau di ruang tertentu semata dengan materi-materi yang tertentu pula serta di waktu-waktu yang terbatas, pendidik yang umum di kenal tidak menyentuh pada seberapa besar anak yang didik dapat mengamalkan ilmunya, apakah ilmu itu dapat mempola dirinya menjadi insan yang kamil. Karena kesuksesan seorang pendidik, diukur dari seberapa benar dan banyaknya anak didik bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ketika ujian, pendidik pun tidak bertanggung jawab atas pemeliharaan anak yang didik. Beda halnya dengan pendidik dalam kaca mata islam, karena selain mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan, juga yang terpenting menanamkan dasar-dasar agama yang menjadi pondasi dari ilmu-ilmu selanjutnya, juga pendidik dituntut untuk senantiasa mengawasi, memelihara dan mengarahkan perkembangan anak didiknya menjadi insan yang kamil, sehingga pendidikan diberikan secara berkesinambungan sesuai dengan kemampuan pendidik hingga menyentuh aspek moral, etika, pribadi diri dan akhlak anak didik.Dari penjelasan tentang pendidik diatas, maka kita dapat mengambil tiga unsur pokok pendidik menurut islam.Pertama, Di dalam mendidik, seyogyanya pendidik mendidik dengan susunan yang tertib, artinya mengajarkan mulai dari hal-hal yang paling mendasar dan hal-hal yang menjadi akar dari hal yang harus diajarkan, setelah itu berhasil maka barulah anak didik diajarkan hal-hal yang menjadi “batang” kemudian “ranting” kemudian “daun” hingga selanjutnya menyentuh pada wilayah “pucuk”nya, itu semua agar perkembangan anak didik dapat di awasi dan di pelihara. Maka tidak salah, pengertian yang diberikan oleh ibnu abbas tentang pendidik/ atau murobbi yaituالذين يربون الناس بصغار العلم قبل كبارهOrang yang mendidik manusia mulai dari pengetahuan-pengetahuan kecil atau mendasar sebelum pengetahuan yang besarAtau pengertian yang diberikan oleh al-asfhahani didalam kitabnya mufrodatul qur’an:انشأشيء حالا فحالا الى حد التمامatau dengan lafadzh yang lain
تبليغ الشيء الى كماله شئا فشئا “yaitu orang yang mengembangkan/menumbuhkan\menyampaikan suatu hal setahap demi setahap hingga mncapai batas kelengkapannya”Pengertian ini bisa dibuktikan dengan merujuk pada cara pengajaran luqman sebagai pendidik yang baik yang telah diabadikan dalam Alqur’an, dalam surat Al-luqman mulai dari ayat 13 sampai 19, kita melihat luqman mengajarkan kepada anak-anaknya mulai dari hal yang paling mendasar yaitu tauhid, aqidah yang benar, hubungan baik kepada sang pencipta, dengan perintahnya “laa tusyrik billah” “jangan mempersekutukan Allah”, selanjutnya luqman mengajarkan agar memperbaiki hubungan dengan manusia utamanya berbuat baik kepada kedua orang tua, bersyukur kepada Allah lalu kedua orang tua, bagaimana cara menyikapi orang tua yang mengajak kepada kesesatan ,kemudian mengingatkan bahwa setiap yang dilakukan pasti ada balasannya, selanjutnya luqman mengajarkan untuk senantiasa melaksanakan tuntunan agama yang pokok seperti sholat baru setelah itu menyuruh untuk berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, mengajarkan kesabaran, lalu menngajarkan akhlak yang baik yaitu dengan melarang sombong dan angkuh terhadap manusia lain hingga mengajarkan hal-hal yang berada pada pucuk pengetahuan, namun buah dari akar, yang itu diibaratkan dengan perintah “sederhana dalam berjalan” dan “melunakkan suara”. Keterangan ini menunjukkan bahwa pendidik dalam islam haruslah memperhatikan hal-hal dengan sengat terperinici dan melakukan proses pendidikan secara berkesinambungan.Kedua, didalam mendidik, seorang pendidik tentunya harus memposisikan sebagai orang yang mendidik secara sadar dan bermaksud untuk memelihara dan mengatur anak didiknya dengan harapan menjadikan anak didiknya sebagai seorang yang berhasil atau bisa kita sebut ansan kamil di dalam kehidupannya. Hal ini sesuai dengan salah satu pengertian yang tertera di dalam kitab rosul almurobbi mengenai kata murobbi, yaituهو انسان الذي يقوم عن عمد وقصد برعاية فرد او افراد لينمو بين يديه فى حياة الناجحه“sesorang yang bertanggung jawab secara sadar dalam melihara seseorang atau beberapa orang dengan tujuan menjadikan orang itu berhasil dalam kehidupannya”Maka dari itu, seorang pendidik wajib melakukan proses pendidikan dengan keikhlasan dan kesadaran bahwa tujuan ia mendidik ialah agar orang yang ia didik dapat berhasil dalam menjalani kehidupan sebagai hamba Allah dan kholifah Allah, tujuan itu mengharuskan ia untuk senantiasa, memelihara, mengawasi, memberi petunjuk, dan memberi peringatan di dalam bertindak dan mengembangkan potensi kemanusiaan si anak didik, yang tentunya itu semua sesuai batas kemampuan sang pendidik, agar setiap didikan yang ia berikan betul-betul dapat diamalkan dan menjadi bekal bagi anak didik untuk bertindak dengan benar.Ketiga,untuk dapat mewujudkan pendidik sesuai dengan pengertian islam, yaitu pendidik yang mendidik mulai dari hal-hal yang mendasar hingga pada kesempurnaan pengajaran, pendidik yang memiliki kesadaran dan tujuan yang benar dan pendidik yang merasa bertanggung jawab atas anak didiknya, maka seseorang harus memiliki tiga komponen dalam dirinya, yaitu sebagai seorang yang berilmu, seorang yang dapat mengamalkan ilmunya dan seorang yang bisa mengajarkan ilmunya dengan baik. Hal ini pun senada dengan pengertian lain yang tertulis dalam kitab rosul al-murobbi mengenai murobbi, yaitu:هو العالم والعامل والمعلم “dia adalah orang berilmu juga orang yang beramal juga orang yang mengajarkan ilmunya”.Karena tanpa pengusaan ilmu yang baik, seseorang tidak akan pernah bisa mendidik dengan baik pula, dan inidikasi penguasaan ilmu yang baik adalah orang itu bisa mengamalkan ilmunya didalam kesehariannya, pengamalan ilmu yang telah menjadi watak dirinya secara otomatis telah mengantarkan dia pada tahap pendidikan pertama yang paling penting yaitu memberikan contoh atau teladan dari diri sendiri kepada orang lain, baru setelah itu dia bisa mengajarkan ilmunya kepada orang lain dan selanjutnya dia dituntut memberikan pengajaran yang baik serta mudah terima dan di fahami oleh si anak didik, pola seperti inilah yang telah di lalui oleh nabi Muhammad dan nabi Ibrahim sehingga didalam Al-qur’an mereka dijadikan sebagai sumber tauladan bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana yang tertulis dalam Al-qur’an surat al ahzab ayat 21 dan mumtahanah ayat 4لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا21. Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kaimat dan yang banyak mengingat Allahقَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ.....4. Sungguh telah ada suri tauladan bagi kalian pada ibrohim dan orang bersama dengannya....ketiga unsur inilah yang menjadikan kedudukan seorang pendidik menurut pandangan islam amatlah penting dan utama, dan juga menjadi acuan karasteristik seorang pendidik islami, yang kesemuanya insya Allah akan penulis kupas di bagian selanjutnya.

C. URGENSI PENDIDIK
Pentingnya seorang pendidik tentunya tidak akan lepas dari pentingnya pendidikan itu sendiri. Pada bagian pendahuluan, telah kami jelaskan panjang lebar, bahwasanya manusia merupakan makhluk dengan kelebihan-kelebihan yang menjadikan penciptaannya menjadi sempurna dibanding makhluk-makhluk lainnya, dan implikasi logis dari itu menjadikan manusia sebagai makhluk yang mulia. Selain mendapatkan status makhluk yang mulia, ternyata manusia juga mendapatkan tugas dan amanah yang sesuai dengan kemuliaannya, maka tentunya amanah dan kewajiban yang menjadi tujuan keberaadaan manusia di muka bumi itu sangatlah berat, untuk itu proses pendidikan sangat manusia butuhkan untuk mengembangkan kelebihan-kelebihan mereka sehingga dapat digunakan secara optimal dalam menjalankan dan mewujudkan tujuan penciptaan, yaitu menghamba pada Allah dan menjadi pemimpin di muka bumi. Sehingga nantinya manusia tetap dapat mempertahankan status mulianya di mata Allah swt.Maka dengan itu pendidikan mendapatkan peran yang sangat strategis, yaitu dengan proses pendidikanlah manusia dapat mempertahankan eksistensinya sebagai manusia yang mulia melalui pemberdayaan potensi dasar dan karunia yang telah diberikan Allah swt.Meski demikian pendidikan yang dimaksud disini adalah pendidkan islami yaitu pendidikan yang mengupayakan penanaman dan mengaktualisasikam nilai-nilai islam pada kehidupan nyata melalui pribadi-pribadi muslim yangberiman dan bertaqwa.Dengan sedemikian pentingnya pendidikan islam dalam kehidupan manusia untuk mempertahankan kemuliannya, maka pendidik juga memilki peran yang sentral dan strategis, sehingga keberadaan, kuantitas dan kualitasnya sangatlah di perlukan dan di pentingkan, karena tentunya pendidiklah yang berperan besar sekaligus menentukan kemana arah potensi peserta didik yang akan dikembangkan, dengan kata lain pendidik merupakan masinis yang mengarahkan proses pendidikan itu, apakah mengarah kepada pembentukan insan kamil atau malah mengarah kepada pembentukan manusia rusak dan pembangkang yang menyalah gunakan segala kelebihan yang telah diberikan kepadanya.Karena pada hakekatnya manusia memiliki kecenderungan pada jalan yang benar dan jalan yang buruk, hal ini sesuai dengan firman Allah swt, surat as-syams ayat 7-10:(7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)
demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. 8. Maka dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaanNya. 9. Sungguh bruntung orang yang menyucikan (jiwa itu) 10. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinyaSementara faktor penting yang menjadikan pendidikan dapat mengantarkan seseorang kepada jalan kebenanaran (ketakwaan) adalah pendidik itu sendiri.Dari uraian diatas maka kita telah dapat menyadari betapa pentingnya pendidik yang menjalankan proses pendidikan sehingga yang didik benar-benar bisa menjadi seorang insan yang kamil, yaitu insan yang dapat melaksanakan tujuan penciptaannya dan mepertahankan kemuliaannya dimata Allah. karena itu pula, tidak salah jika ramayulis menyatakan bahwa Allah dan Rasulullah adalah pendidik, mengingat betapa besar pentingnya peran pendidik tersebut, hal ini pun dibuktikan dengan firman Allah, yang menunjukkan Allah itu adalah pendidik yang mengajarkan adam nama-nama seluruhnya yang itu menjadi sebuah alasan mengapa Allah memuliakan anak adam dibanding malaikat sekalipun, bisa kita lihat pada surat Al-baqoroh ayat 31:وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ31. dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “sebutkan kepada Ku nama semua (benda) ini, jika kamu benar”Dan juga dalam Al-qur’an terdapat ayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah adalah seorang pendidik yang membacakan, dan mengajarkan Al-qur’an dan sunnah. Hal ini terdapat pada surat al-baqoroh ayat 151:كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
Sebagaimana kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (muhammad) dari kalangan kamu yang membacakan ayat-ayat kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan padamu kitab (Al-qur’an) dan hikmah (sunnah) serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.Didasari dengan sangat pentingnya pendidik, maka Allah memerintahkan seluruh ummatnya untuk menjadi hamba yang patuh dan kepatuhannya itu dilihat dari “mengajarkan kitab dan mempelajarinya” sebagaimana yang tertera dalam surat ali imran ayat 79:.....كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ (79) ... jadilah kalian pengabdi-pengabdi Allah, karena kalian mengajarkan kitab dan kalian mempelajarinya.Dari ayat ini, menunjukkan bahwa, untuk mewujudkan salah satu tujuan penciptaan manusia yaitu menjadi “pengabdi Allah” maka syaratnya adalah mempelajari Al-qur’an dan mengajarkannya, artinya perintah itu juga menyatakan bahwa manusia yang mengaku hamba Allah harus menjadi pendidik yang mengajarkan ilmu utamanya ilmu agama. Maka dari sini kita dapat mengetahui, setiap manusia harus menjadi seorang pendidik, ini pun dikuatkan dengan sabda Rasulullah:بلغوا عني ولو ايةSampaikan dari ku walaupun satu ayatLafadzh balliguu.. yang menjadi indikator perintah “menyampaikan” itu memberikan legitimasi bahwa rasul pun menyuruh semua ummatnya menjadi pendidik, orang yang mendidikkan dan mengajarkan segala ajaran yang datangnya dari Nabi, karena pada hakikatnya semua kehidupan nabi adalah pendidikan, dan rasul menempatkan pendidikan pada perhatian yang lebih dan selalu mendorong sahabatnya untuk menuntut ilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya.salah satu bukti sejarah dimana pendidik itu amat penting dimata nabi ialah ketika para tawanan perang badar dibolehkan bebas asalkan ia telah mengajarkan 10 orang islam membaca dan menulis.Semua uraian diatas penulis rasa sudah cukup menunjukkan betapa pentingnya pendidik dalam pandangan islam yang berdasarkan qur’an dan sunnah.

D. KARAKTERISTIK PENDIDIK ISLAM
Luasnya cakupan pendidikan dalam pengertian islam, membuat segala prosesnya harus ditunjang dengan banyak hal yang itu meliputi seluruh klasifikasi-klasifikasi demi mencapai cakupan yang luas tersebut, oleh karenanya karakteristik pendidik islam memiliki ciri khas tersendiri dibanding pendidik-pendidik yang didasarkan pada ajaran selain islamBerikut ini kami paparkan beberapa karkateristik-karakteristik yang telah di tetapkan oleh beberapa tokoh islam:Al-Abrasy mengemukakan beberapa karakteristik pendidik.a. Seorang pendidik bersifat zuhud, artinya melaksanakan tugasnya bukan semata-mata karena materi, melainkan mendidik untuk mencari keridhaan Allah.b. Seorang pendidik harus bersih tubuhnya, jauh dari dosa dan kesalahan, bersih jiwanya, terhindar dari dosa, sifat ria dengki, permusuhan, dan sifat –sifat tercela lainnyac. Seorang pendidik harus ikhlas dalam menjalankan tugasnya dan memiliki sifat-sifat terpuji lainnya, seperti rendah hati, jujur, lemah lembut, dan sebagainya.d. Seorang pendidik mesti suka memaafkan orang lain, terutama kesalahan peserta didiknya, lalu ia juga sanggup menahan diri, menahan kemarahan, lapang hati, banyak sabar dan mempunyai harga diri.e. Seorang pendidik harus mencintai peserta didiknya seperti cintanya terhadap anak-anaknya sendiri dan memikirkan keadaan mereka seperti ia memikirkan keadaan anak-anaknya.f. Seorang pendidik harus mengetahui karakter/tabiat peserta didiknya.g. Seorang pendidik mesti menguasai pelajaran yang ia berikan.Sementara an-Nahlawi menyebutkan beberapa karakteristik seorang pendidik, yaitu:a. Mempunyai watak dan sifat rubbaniyah yang terwujud dalam tujuan, tingkah laku, dan pola pikirnya.b. Bersifat ikhlas; melaksanakan tugasnya sebagai pendidik semata-mata untuk mencari ridha Allah dan menegakkan kebenaran.c. Bersifat sabar dalam mengajarkan berbagai pengetahuan kepada peserta didik.d. Jujur dalam menyampaikan apa yang diketahuinya.e. Senantiasa membekali diri dengan ilmu, kesediaan diri untuk terus mendalami dan mengkajinya lebih lanjut.f. Mampu menggunakan metode mengajar secara bervariasi sesuai dengan prinsip-prinsip penggunaan metode pendidikang. Mampu mengelola kelas dan peserta didik, tegas dalam bertindak dan proporsional.h. Mengetahui kondisi psikis peserta didik.i. Tanggap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan atau pola berpikir peserta didik.j. Berlaku adil terhadap peserta didiknya.Ibn Khaldun, dalam kitabnya Muqaddimah, juga berpendapat bahwa seorang guru harus memiliki karakter yang baik. Dalam hal ini ia mengutip wasiat al-Rasyd kepada Khalaf bin Ahmar, guru puteranya MUhammad al-Amin.. Dari wasiat itu, dapat disimpulkan bahwa setiap pendidik mesti bijaksana dalam mendidik anaknya, penuh kesabaran dan kasih sayang serta tanggung jawab yang tinggi sehingga si anak memiliki kompetensi di bidang yang ia ajarkan.


E. PENUTUP
Islam dengan ajarannya yang bersifat universal, toleransi dan sesuai dengan kebutuhan serta fitrah manusia ternyata memberikan kedudukan yang lebih bagi pendidik dan tentunya proses pendidikan tersebut. Hal itu didasari atas kebutuhan manusia dalam mengembangkan kelebihan yang mereka miliki sehingga dapat di optimalkan untuk mepertahankan derajat kemulainnya di sisi Allah swt. Karena hakikat pendidik dan pendidikan menurut kaca mata islam sangat luas dan menyeluruh dibanding pemahaman umum masayarakat kita tentang pendidik dan pendidikan itu sendiri. Dimana proses pendidikan yang ditunjukkan oleh islam adalah seluruh rangkaian kehidupan manusia, dan wajibnya tiap manusia untuk menjadi pendidik, setidaknya menjadi pendidik bagi diri sendiri.


Selasa, 21 Agustus 2012

SETELAH LEBARAN APA YANG HARUS DILAKUKAN?



 SETELAH LEBARAN APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Hingar bingar mudik lebaran telah usai. Hari lebaran yang ditunggu-tunggu telah kita lewati dengan sukacita. Lalu apa yang tersisa dari bulan Ramadhan itu? Buah apa yang dapat kita petik setelah sebulan kita menjalankan ibadah shaum? Sudahkan kita benar-benar kembali fitri? Dan sejauh mana esensi puasa mampu menginspirasi derap langkah kita sebelas bulan yang akan datang? 
Paling tidak ada 5 hal penting yang dapat kita pegang teguh di hari-hari bulan syawal dan seterusnya sehingga kita betul-betul layaknya menjadi insan yang berhasil menyelesaikan ujian sebulan penuh selama ramadhan. 

1. Shaum ditandai dengan keharusan untuk ‘imsyak’, menahan diri. Dalam kajian lebih mendalam, imsyak tak hanya keharusan untuk menahan lapar dan dahaga, melainkan jauh dari itu, yakni menahan dari segala sesuatu yang menggoda keimanan kita. Menahan untuk tidak tamak, serakah dan juga perilaku memerkaya diri dengan tidak memedulikan etika agama dan norma masyarakat yang berlaku di komunitas dan sekitar kita. 

2.Selama Ramadhan biasanya selalu kita tekuni dengan mandaras al-Qur’an. Sayangnya, mungkin kita hanya sebatas pada membaca (qara’a), dan belum beranjak ke mengkaji (tadarrus) apa yang terkandung di setiap ayat maupun surat. Karena itu, meski dalam sebulan mungkin kita mampu mengkhatamkan dua kali, tetapi esensi ajaran-ajaran dari al-Qur’an itu sendiri tak pertnah menyelesak dalam sanubari kita. Untuk itu, dalam bulan-bulan mendatang ini, jauh lebih penting adalah meningkatkan ‘mengaji’ al-Qur’n ke tingkat yang lebih tinggi, yakni mengkaji. Dan setelah itu adalah merealisasikannya dalam ranah kehidupan nyata. Sebab, sudah menjadi rahasia umum, meski faham betul pada rambu-rambu yang diberikan oleh al-Qur’an, tetap saja kita acuh, dan seolah tidak tahu bahwa sesuatu itu haram, terlarang, dan dosa. 

3. Puasa Ramadhan kita tutup dengan membayar zakat fitrah sebagai upaya untuk mensucikan harta yang kita miliki. Kewajiban inilah yang memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa dalam harta kita ada hak orang lain yang harus kita kembalikan kepada mereka: fakir miskin, kaum papa, atau dhuafa. Sayangnya, pengelolaan zakat, termasuk juga infaq dan shadaqah masih dirasa belum optimal. Penggun aannya masih bersifat lonsumtif dari pada produktif. Ke depan perlu kita fikirkan bagaimana zakat yang kita kumpulkan itu mampu “menghidupi” setiap mustahik zakat menjadi insane baru yang tahun berikutnya menjadi orang yang berganti mengeluarkan zakat. Artinya, zakat seharusnya mnjadi instrument bagi kesejahteraan masyarakat tidak dalam sehari atau seminggu, tetapi labikh produktif dari itu. 

4. Selain zakat, Ramadhan juga kita pungkasi dengan merayakan lebaran atau Idul Fitri, dimana momen tersebut kita gunakan untuk saling bersilaturrahim dan memaafkan antar sesama. Tradisi inilah sebetulnya yang perlu kita budayakan tidak hanya di kala lebaran, melainkan sepanjang waktu agar kita senantiasa menjadi insan pemaaf, jauh dari sikap sombong, angkuh dan pongah. Dengan budaya pemaaf itu, diharapkan kita akan menjadi orang yang selalu rendah diri, senantiasa mengintrospeksi diri, dan terhindar dari rasa dendam. Dengan bersilaturrahim, jalinan kasih persaudaraan juga terjaga, sehingga jejaring sosial yang terjalin di antara kita senantiasa menjadi perekat bagi kehidupan bermasyarakat kita. 

5. Keempat hal di atas itulah yang akan menghantarkan kita kembali fitri, menjadi jati diri yang sesungguhnya, dan tidak hanya pasca lebaran, melainkan sepanjang tahun hingga sampai pada Ramadhan tahun berikutnya. Bukankah orang-orang bijak selalu berdo’a: “Ya Tuhan, berikan aku kesrmpatan untuk menikmati indahnya Ramadhan di tahun depan, agar aku dapat merasakan kemuliaan bulan yang telah Engkau karuniakan itu”. Do’a ini tak semata pengharapan, melainkan sugesti untuk selalu menjadi yang terbaik dalam ber-fastabikhul khairat, berkompetisi dalam kebaikan.

Rabu, 15 Agustus 2012

APAKAH PUASA KITA BERNILAI ?

KHUTBAH RASULULLAH SAW SAAT MENJELANG BULAN RAMADHAN


“ Wahai manusia, telah tiba kepada kalian bulan Ramadhan dengan membawa keberkahan, kasih sayang Allah dan ampunan-Nya. Bulannya yang paling utama, hari-harinya yang paling utama, malam-malamnya yang paling utama, jam demi jamnya yang paling utama. Di bulan itu kalian diundang menjadi tamu Allah dan berhak dimuliakan-Nya. Nafas kalian dihitung sebagai tasbih, tidur kalian ibadah, amal kalian diterima, do’a kalian dikabulkan. Karena itu, mohonlah kepada Allah dengan niat yang tulus dan hati yang bersih agar Allah menuntun kalian untuk menjalankan shaum dan membaca kitab-Nya.
“ Orang yang celaka ialah yang tidak mendapat ampunan Allah pada bulan itu. Kenanglah, ketika kalian lapar dan dahaga, kelaparan dan kehausan pada hari kiamat nanti. Bersedekahlah kepada fakir miskin di tengah-tengah kalian. Hormati orang tua, sayangi anak muda. Sambungkan persaudaraan. Tahan pandangan dari apa yang tidak halal dilihat. Jaga telinga dari yang tidak halal didengar. Sayangi anak-anak yatim orang lain, agar Allah menyayangi anak-anak yatim kalian. Bertobatlah pada Allah dari dosa-dosa kalian. Angkat tangan ke arah langit, sampaikanlah do’a pada waktu-waktu shalat, karena itulah saat ijabah. Di situ Allah memperhatikan hamba-Nya dengan penuh kasih. Allah menjawab ketika mereka menyeru-Nya. Allah menyambut mereka saat memanggil-Nya. Allah memperkenankan mereka ketika berdo’a kepada-Nya.

“ Wahai manusia, barangsiapa :
- menjaga keindahan akhlaknya pada bulan ini, ia akan melewati shirath (jembatan) dengan cepat, saat kaki-kaki manusia tergelincir,
- meringankan pekerjaan orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya, Allah akan meringankan pemeri-ksaan-Nya,
- menahan diri dari berbuat jelek, Allah akan menahan murka-Nya pada hari saat ia bertemu dengan Dia,
- menyambungkan persaudaraan dengan sesama pada bulan itu, Allah akan menjalin kasih-Nya dengannya pada hari ketika ia berjumpa dengan Dia,
- shalat sunat pada bulan itu, Allah akan membebaskannya dari neraka sedangkan pahala shalat wajib yang dilakukannya sama seperti melakukan 70 kali shalat wajib pada bulan lain,
- memperbanyak shalawat kepadaku pada bulan itu, Allah akan memperberat timbangannya pada hari kiamat, ketika ringan timbangan-timbangan yang lain,
- membaca satu ayat Al-Qur’an pada bulan itu, pahalanya seperti orang yang khatam Al-Qur’an pada bulan yang lain.
“ Ketahuilah, pada bulan itu pintu surga dibukakan. Mohonlah ampun agar Allah tidak menutupnya bagimu selamanya. Pintu neraka ditutup. Mohonlah agar pintu itu tidak pernah dibukakan pada kalian selamanya. Setan-setan terbelenggu. Mohonlah agar Allah tidak melepaskannya untuk menguasai kalian.”
Nabi SAW membimbing para shahabat melakukan shaum yang sebenarnya. Berulangkali ditegaskan bahwa shaum tidak sekedar menahan lapar dahaga. Dari bimbingan Nabi SAW, Imam al-Ghazali menyebutkan 6 hal sebagai syarat batiniah shaum. Tanpa syarat ini shaum sama sekali tak berguna
1. Menahan pandangan dari segala yang tercela dan dari semua yang dapat melalaikan kita dari dzikir pada Allah.
Nabi SAW bersabda : “ Pandangan mata ialah anak panah beracun yang dilepaskan iblis. Barangsiapa menundukkan pandangan karena takut pada Allah, Allah akan memberikan iman kepadanya yang ia temukan manisnya iman itu dalam hatinya.” (HR. at-Thabrani). Ada 6 hal yang membatalkan shaum : berdusta, menggunjing, memfitnah, sumpah palsu, dan memandang dengan nafsu.”
2. Menjaga lisan dari kejahatan omongan, seperti menggunjing, berdusta, kata-kata kotor, apalagi memfitnah dan mengadu domba kaum Muslimin. Kendalikan lisan dengan diam, dan lebih utama bila lisan disibukkan dengan dzikrullah dan tilawah Al-Qur’an. Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya puasa adalah pe-risai. Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa maka jangan berkata kotor dan jangan bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang menyerang atau mencaci, katakanlah “ Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.”
3. Menahan pendengaran dari semua yang tercela dan dibenci Allah. Nabi SAW mengatakan : “ Yang me-lakukan ghibah (pergunjingan) dan yang mendengarnya adalah sekutu dalam kejelekan.” (HR. at-Thabrani)
4. Menahan semua anggota badan dari berbuat dosa dan maksiat, serta menahan perut dari memakan bukan saja yang haram tapi yang syubhat (samar). Nabi SAW bersabda : “Betapa banyaknya orang yang shaum yang tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya, kecuali lapar dan dahaga.” (Musnad Ahmad 2 ; 441)
5. Tidak memperbanyak makan pada waktu berbuka. Bukankah shaum itu melemahkan nafsu. Bila nafsu dilemahkan pada siang hari dan diperkuat lagi pada malam hari, shaum menjadi perbuatan yang sia-sia. Al-Ghazali menyebut nafsu sebagai kendaraan setan. Dengan makan yang banyak, sangat sulit untuk dapat melakukan ibadah dengan khusyu.
Salah satu adab shaum yang sering dilupakan adalah mengurangi tidur siang. Dengan tetap aktif di siang hari, kita bisa merasakan lapar, dahaga, dan lemahnya kekuatan. Sehingga hati menjadi jernih, lembut dan timbul empati terhadap penderitaan orang lain.
6. Pada waktu berbuka, hati hendaknya selalu diletakkan antara cemas dan harap. Ia harus mencemaskan ibadah dan amal shalehnya. Jika tidak diterima, ia akan termasuk orang yang dimurkai Allah. Tetapi ia juga harus memelihara harapan. Diriwayatkan oleh Hasan al-Bashri lewat sekelompok orang yang sedang tertawa-tawa pada Hari Raya. Ia berkata : “ Sesungguhnya Allah SWT menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang hasilnya tersembunyi bagi makhluk-Nya. Mereka berlomba menaatinya. Sebagian berhasil maju dan beruntung. Sebagian lagi tertinggal dan kecewa. Alangkah ajaibnya orang bermain dan tertawa pada hari ketika beruntung orang yang maju dan celaka orang yang gagal. Demi Allah, sekiranya tirai disingkapkan, orang baik akan sibuk dengan kebaikannya dan orang jelek akan sibuk dengan kejelekannya.

MAKNA MAKAN SAHUR







MAKNA MAKAN SAHUR


Sahur dalam bahasa Arab, as-sahur (السَّحُوْرُ) dengan mem-fathah huruf sin adalah benda makanan dan minuman untuk sahur. Adapun as-suhur (السُّحُوْرُ) dengan men-dhommah huruf sin adalah mashdar yakni perbuatan makan sahur itu sendiri. (An-Nihayah, 2/347)
Makan sahur hukumnya sunnah, berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat barakah.” (Muttafaqun ‘alaih)
Menurut Al-Imam An-Nawawi bahwa : “Para ulama telah bersepakat tentang sunnahnya makan sahur dan bukan suatu kewajiban.” (Syarh Shahih Muslim, 7/207)
Dalam hadist lain yang diriwayatkan Abu Sa’id Al-Khudri radiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

السَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ …

“Makan sahur adalah barakah maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah seorang di antara kalian hanya minum seteguk air.” (HR. Ahmad, hadits hasan, lihat Shahihul Jami’ish Shaghir, 1/686 no. 3683)

Mengenai makna makan sahur, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjelaskannya dalam beberapa hadits bahwa ::
1. Dalam sahur terdapat barakah
Dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat barakah.” (Muttafaqun ‘alaih)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam kitabnya (Fathul Bari, 4/166): “Dan yang utama (dari tafsiran “barakah” yang terdapat dalam hadits) sesungguhnya barakah dalam sahur dapat diperoleh dari beberapa segi, yaitu:
a. Mengikuti Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam.
b. Menyelisihi ahli kitab.
c. Menambah kemampuan untuk beribadah.
d. Menambah semangat.
e. Mencegah akhlak yang buruk yang timbul karena pengaruh lapar.
f. Mendorong bersedekah terhadap orang yang meminta pada waktu sahur atau berkumpul bersamanya untuk makan sahur.
g. Merupakan sebab untuk berdzikir dan berdoa pada waktu mustajab.
h. Menjumpai niat puasa bagi orang yang lupa niat puasa sebelum tidur.

2. Pujian Allah Ta’ala dan doa para malaikat terhadap orang-orang yang sahur
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Makan sahur adalah barakah. Maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah satu di antara kalian hanya minum seteguk air. Sesungguhnya Allah ta’ala dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang sahur.” (HR. Ahmad, hadits hasan, lihat Shahihul Jami’ish Shaghir, 1/686 no. 3683)

3. Menyelisihi puasa ahli kitab
Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Yang membedakan antara puasa kami (orang-orang muslim) dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Al-Imam Muslim dan lainnya)

Al-Imam Sarafuddin Ath-Thiibi rahimahullah berkata: “Sahur adalah pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab, karena Allah ta’ala telah membolehkan kita sesuatu yang Allah Ta’ala haramkan bagi mereka, dan penyelisihan kita terhadap ahli kitab dalam masalah ini merupakan nikmat (dari Allah Ta’ala) yang harus disyukuri.” (Syarhuth-Thiibi, 5/1584)

Wallahu a’lam.

LAILATUL QADAR




LAILATUL QADAR


إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١)وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢)لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣)تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤)سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥)

Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malai-kat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) keselamatan hingga terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5) 

Alangkah agungnya (kedudukan) malam tersebut dibandingkan malam yang lain, alangkah mulia kebaikan-nya, dan alangkah melimpahnya keberkahan di malam tersebut. Malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan yang setara dengan 83 tahun dari umur seseorang. Waktu 83 tahun adalah waktu yang lama seandainya seorang muslim menghabiskan waktu tersebut dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, namun (beribadah pada) malam Al-Qadr lebih baik daripada hal tersebut, inilah (keuntungan) bagi mereka yang menggapai keutamaan dan karunia pada malam tersebut. 
Mujahid rahimahullah mengatakan, “(Keutamaan) Lailatul Qadr lebih baik daripada keutamaan seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadr.”
Pada malam yang mulia ini, para malaikat akan lebih banyak turun ke dunia dikarenakan melimpahnya ber-kah pada malam tersebut, karena malaikat akan turun seiring turunnya berkah, yaitu keselamatan (yang ditebarkan) hingga terbitnya fajar, seluruh kebaikan terkandung dalam malam tersebut, tidak ada keburukan hingga terbitnya fajar. Pada malam ini, segala urusan yang penuh hikmah dirinci, maksudnya segala kejadian selama setahun ke depan ditentukan dengan izin Allah yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Penentuan takdir pada malam tersebut adalah penentuan takdir tahunan, adapun penentuan takdir secara umum yang tercantum dalam Lauhul Mahfuzh, maka hal tersebut telah tercatat sejak 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
Sepatutnya seorang muslim bersemangat dalam menelusuri suatu malam yang memiliki kedudukan seperti ini, agar mendapatkan keberuntungan dengan pahala yang terdapat pada malam tersebut, mendulang kebaikan-nya, memperoleh ganjarannya, dan merengkuh berkahnya. Orang yang merugi adalah mereka yang tidak mendapatkan pahala pada malam tersebut. Barang siapa yang melewatkan momen-momen kebaikan, hari-hari tersebarnya keberkahan dan karunia, sedangkan dirinya senantiasa bergelimang dalam dosa dan kesesa-tan serta asyik dalam kedurhakaan, karena dirinya telah dibinasakan oleh kelalaian dan penyimpangan, kesesatan telah menghalanginya (dari pintu kebaikan), maka betapa besar kerugian dan penyesalan yang menimpanya. Seorang yang tidak bersemangat dalam mencari keuntungan pada malam yang mulia ini, kapankah dirinya akan bersemangat lagi? Seorang yang tidak bertaubat kepada Allah pada malam yang mulia ini, kapankah dia akan bertaubat? Dan seorang yang senantiasa malas dalam melakukan kebaikan di malam ini, maka kapan lagi dirinya akan beramal? 
Sesungguhnya bersemangat dalam mencari malam yang penuh berkah ini, serta beribadah dan berdoa di da-lamnya merupakan ciri orang pilihan dan mereka yang berbakti kepada Allah. Bahkan dalam malam tersebut mereka berdoa dengan penuh kesungguhan kepada Allah Dia memberikan ampunan dan perlindungan bagi mereka, karena segala sesuatu yang akan terjadi pada diri seseorang selama setahun ke depan ditetapkan pada malam tersebut. Di malam inilah mereka berdoa dan memohon kepada Allah, dan mereka bersungguh-sungguh (dalam berbuat kebajikan) selama setahun ke depan penuh, hanya kepada Allah semata mereka memohon pertolongan dan taufik.

Selasa, 14 Agustus 2012

MAKNA IDUL FITRI











MAKNA IEDUL FITRI

Idul Fitri adalah hari raya yang datang berulangkali setiap tahun, yang disongsong dan dinanti oleh begitu banyak manusia, khususnya umat Islam dan terlebih yang menunaikan ibadah puasa (shaum) Ramadan. Idul Fitri menandai bahwa puasa (shaum) telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Segala persiapan dilakukan dan fasilitas disediakan untuk mensiarkan hari yang jatuh pada tanggal 1 syawal itu.
Apa sesungguhnya makna di balik mobilisasi yang begitu masif dan meriah itu?.
Apabila kata fitri diartikan “berbuka” atau “berhenti puasa” yang identik dengan makan minum. Maka tidak salah apabila Idul Fitri disambut dengan makan-makan dan minum-minum yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.
Adalah kesalahan besar apabila Idul Firi dimaknai dengan ‘Perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum‘ sehingga tadinya dilarang makan di siang hari, setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam, atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan kemudian. Karena Ramadhan sudah usai maka keniaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan. Kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang shaleh mustman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrahan dan nilai ketaqwaan.
Terminologi Idul Fitri seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna idul fitri sendiri juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi. Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai ‘Kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci‘ sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang muslim selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.
Makna asal kata “Idul Fitri” dari kata “’Ied” yaitu hari raya dan “fitri” artinya berbuka puasa atau Lebaran. Idul fitri berati hari berbuka secara massal setelah sebulan kaum muslimin menjalani puasa. Rasa bahagia saat berbuka di waktu maghrib selama sebulan seakan dirapel pada tanggal 1 syawal di hari raya Lebaran. Kegembiraan itu bagai kado Ilahi bagi para shaimin/shaimat karena selesai menunaikan kewajiban puasa sebulan, dan kelak di hari pertemuan denganNya akan diberikan kado “rapel kebahagiaan” menjalankan puasa sepanjang usia ditambah bonus Ilahi lainnya. Demikian isi hadits Nabi menegaskan.
Ekspresi dan tampilan Idul Fitri sebagai ”Iduna Ahlil Islam” kata Nabi “Hari Raya kami penganut Islam”. Sebagai “yaumu aklin wa syurbin wa bahjatin” yakni hari makan-minum dan bersuka cita. Sehingga diharamkan berpuasa pada hari ini dan diwajibkan kepada seluruh ahlul Islam memastikan tidak ada seorang anak muslim pun yang tidak ikut berlebaran. Demi kebesaran hari ini maka harus terbebas dari pengemis. Untuk itu secara khusus zakatul fitri diwajibkan.
Dengan menjalankan puasa Ramadan secara benar ada jaminan dibersihkan dari dosa vertikal dan dengan silaturahim saling memaafkan/membebaskan maka sesama muslim akan terbebas dari dosa horizontal. Dengan begitu Idul Fitri juga bermakna kembali kepada kesucian terbebas dari dosa perdosa. Kembali seperti bersihnya seorang bayi yang dlahirkan dalam fithrah, tidak membawa beban dosa apapun. Dalam kondisi fithri maka setiap insan siap untuk menerima agama Allah yang fithri, yaitu agama Islam dan agama tauhid.
Sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran Surah Al Rum ayat 30: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama Allah, firah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Ketika merayakan Idul Fitri setidaknya ada tiga sikap yang harus kitapunyai, yaitu:
1. Rasa penuh harap kepada AllahSWT (Raja’). Harap akan diampuni dosa-dosa yang berlalu. Janji Allah SWT akan ampunan itu sebagai buah dari “kerja keras” sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa.
2. Melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasayang kita lakukan telah sarat dengan makna, atau hanya puasa menahan lapar dan dahaga saja Di siang bulan Ramadhan kitaberpuasa, tetapi hati kita, lidah kita tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataari yang menyakitkan orang lain. Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang mengatakan banyakorangyang hanya sekedar berpuasa saja: “Banyak sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya sekedar menahan lapar dan dahaga“.
3. Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, karena predikat taqwa sehantsnya berkelanjutan hingga akhir hayat. Firman Allah SWT: “Hai orang yang beriman, bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam ” (QS. Ali Imran: 102).
Itulah makna Idul Fithri. Semoga kita raih semuanya, setidaknya jangan terlewatkan semuanya.
Semoga Allah menerima ibadah kita.

Minggu, 29 Juli 2012

SPIRIT RAMADHAN DIHIANATI ACARA TELEVISI



Spirit Ramadhan Dihianati Acara Televisi


Sepuluh hari pertama Bulan Ramadhan hampir kita lewati dengan aman dan tentram. Namun, ada beberapa masalah yang menurut saya memang perlu kita kritisi. Diantaranya adalah tayangan program televisi yang menemani pemirsa selama bulan suci ini, cenderung lebih banyak mudharat-nya ketimbang manfaat (terutama acara yang disuguhkan pada malam hari hingga subuh).


Program-program televisi yang khusus digelar di bulan Ramadhan nyaris semuanya dengan judul “bernuansa ramadhan”. Dengan judul yang dikemas sedemikian rupa, sehingga terkesan kental membawa dakwah ramadhan. Padahal sesungguhnya belum sejalan dengan spirit suci Ramadhan. Masih banyak adegan kekerasan, penghinaan dalam guyonan tayangan komedi masih mendominasi untuk tontonan muslimin. Bahkan ada beberapa tayangan ramadhan yang masuk kategori tidak patut.


Tayangan-tayangan tersebut, sarat dengan kata-kata makian, hinaan, dan kadang menjurus porno. Kata-kata dan sikap pelecehan yang sering muncul diantaranya menyamakan manusia dengan binantang dan pelecehan seksual. Lalu tindak kekerasan yang sering muncul adalah kekerasan berupa pukulan di kepala, walaupun hanya “trik”, namun tetap memberikan contoh yang vulgar. Sementara itu acara-acara “gosip show” tetap dengan gaya menampilkan membuka aib orang lain, membicarakan orang lain (yang terkadang tidak jelas antara kebenaran dan fitnah, masalah keluarga yang buruk, perselingkuhan, dll).


Dari analisa sederhana mengenai program-program televisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa tayangan Ramadhan itu cenderung tidak mewakili spirit Ramadhan. Bahkan, pendapat lebih ekstrim bisa “menghakimi” tontonan menemani ibadah puasa itu dengan cap menodai kesucian Ramadhan itu sendiri. Karena, Bulan Ramadhan yang seharusnya tidak diisi dengan kata-kata makian dan hinaan (bercanda yang berlebihan, merendahkan harkat-martabat manusia) atau kata-kata dan sikap yang menjurus ke hal-hal porno atau perbuatan maksiat lainnya, justru malah tetap diisi dengan cara-cara yang sama seperti pada hari-hari bisa. Tentu saja, selain Ramadhan pun seharusnya budaya-budaya negatif itu pun sebaiknya dihentikan. Paling tidak, dieleminir.


Stasiun televisi melalui program-programnya merupakan “media belajar yang sangat efektif”. Apabila tayangannya kasar dan vulgar, maka para pemirsa tanpa disadari tengah mencermati sekaligus mempelajari tayangan yang disuguhkan untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dari beberapa penilitian ilmiah yang pernah saya baca tentang pengaruh acara televisi terhadap perilaku penontonnya, saya percaya bahwa program televisi bisa lebih dahsyat mempengaruhi pola hidup dan pola pikir manusia, terkadang melibihi pengaruh seorang guru di bangku sekolah. Apalagi jika kita maklumi, bahwa sebagian besar penontonnya adalah anak kecil, atau muda-mudi yang sedang dalam masa pembentukan jatidiri.


Apakah tayangan-tayangan humor yang vulgar atau “menjurus” bisa berakibat parah terhadap sikap dan perilaku manusia dewasa? Saya kira sama saja. Mungkin seperti tidak separah itu, meskipun pengaruhnya lebih lambat, namun karena tayangan dengan pola sama yang tak henti-hentinya, dari masa ke masa, suatu saat nanti akan turut membentuk jatidiri bangsa. Jadi, tayangan-tayangan negatif itu ibarat bom waktu yang kita ciptakan sendiri. Stasiun televisi hanya berpikir komersil sementara soal akibat yang bisa ditimbulkan, mereka entah tidak mau tahu, atau tidak menyadarinya, wallaahu alam.


Parahnya lagi, pemirsa kita seperti terhipnotis tayangan televisi, dan menerima hal yang negatif sebagai sesuatu yang biasa atau lumrah. Ketika MUI mengkritik program-program stasiun swasta, justru masyarakatlah yang menjadi “pengacara gratis”. Ini bisa kita lihat melalui komentar-komentar masyarakat yang ditayangan secara online di situs-situs tv yang bersangkutan. Mereka justru balik mengkritik MUI. Bahkan kadang dengan kata-kata yang sangat pedas dan vulgar diiringi dengan makian yang tidak pantas (nah, apakah ini juga pengaruh dari acara tv?). Mungkin ini juga sebagai bagian dari teori sosiologi yang menegaskan bahwa ”di tengah-tengah masyarakat gila, yang normal dianggap sinting” (maaf saya tidak bermaksud vulgar, ini hanya sekedar perumpaamaan).


Kritik atau serangan balik para pemirsa terhadap pendapat MUI itu menurut saya seharusnya tidak perlu. Karena, komentar-komentarnya seperti tergiring secara emosional saja. Reaktif namun tidak kritis. Saya kira semua orang dalam hati terdalamnya memiliki alat sensor untuk membedakan yang mana kebenaran dan yang mana sebagai suatu kesalahan. Jadi tanpa harus menyitir Al-quran, Hadits, atau buku pelajaran, sesungguhnya mereka sudah bisa menentukan apakah yang ia saksikan sudah tepat atau belum. Persoalannya sebagai penonton atau komentator, akal sehat yang menjadi tolak ukur atau emosi yang membimbing?


Sekarang sudah saatnya para pelaku seni dan para produser acara-acara “modern yang tradisional” itu untuk mempersiapkan acara yang lebih berisi luar-dalam. Yang tidak membuat pemirsa sekedar bahagia atau tertawa terbahak-bahak sesaat, namun setelah itu tidak ada pesan penting yang terngiang di otak.


Tanpa bermaksud beranalisa karena sekedar like and dislike atau membandingkan karena sentimen semata, jika boleh berpendapat, tayangan sinetron “Para Pencari Tuhan” yang ditayangkan SCTV nampak jauh lebih berkualitas dibanding acara-acara Ramadhan lainnya (selain acara ceramah atau dakwah secara khusus). Apalagi jika dibandingkan dengan acara lain pada jam yang sama. Sinetron ini, disampaikan dengan sederhana, mudah dicerna, dengan diselipi humor ringan dan cerdas. Walaupun disampaikan sederhana, sesungguhnya sinetron ini sarat makna dan banyak mengutip ayat Al-quran dan Hadits. Selain kita terhibur, kita sedang belajar mengenai tuntunan tuhan dan rasulnya.


Tentu saja tidak ada manusia yang sempurna, sekaligus tidak ada tayangan yang sempurna. Tetapi paling tidak sinetron Para Pencari Tuhan insyaallah jika dibandingkan acara lain, lebih sedikit mudharatnya dan lebih banyak manfaatnya. Seharusnya para produser belajar banyak dari program ini, dan bersaing secara sehat mempersiapkan program yang lebih berisi.


Mohon maaf jika artikel ini menyinggung sebagian orang, atau tidak berkenan membacanya. Ini hanya sekedar analisa “setengah-setengah”. Bukan sedang menggurui anda. Sebaliknya lebih mengingatkan diri saya sendiri. Jika tidak bermanfaat buang saja. Jika ada setetes pesan positif, semoga membawa berkah bagi saya dan anda semua. Wassalam.

Selasa, 24 Juli 2012

BERBUKA PUASA YANG BAIK



BERBUKA PUASA YANG BAIK



Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :"Berpuasalah maka kamu akan sehat"(HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)Juga dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :"Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa"(HR. Ibnu Majah)

Perubahan jadwal makan pastinya akan membuat proses metabolisme tubuh juga berubah sehingga perlu penyesuaian di awal-awal bulan puasa. Demikian juga asupan karbohidrat, protein dan vitamin yang sangat mendukung kinerja alat tubuh secara optimal otomatis berubah takarannya, terutama dalam waktu konsumsinya.

Kalau di hari-hari biasa, ngemil dapat dilakukan kapan saja dan sebenarnya turut membantu mencukupi kebutuhan akan karbohidrat, protein dan vitamin. Namun saat Ramadhan tiba, silahkan diteruskan kebiasaan tersebut dan dijamin tidak mendapat pahala berpuasa.

Berbuka puasa adalah momen paling dinanti untuk segera menyantap makanan dan minuman. Tapi bukan berarti Anda bisa melahap semua makanan yang diinginkan sekaligus. Berbuka puasa pun perlu mengikuti langkah-langkah benar karena sebelumnya lambung tidak terisi makanan dalam waktu lama cenderung lebih rentan mengalami gangguan pencernaan. Berikut beberapa tips berbuka yang baik:

1. Berbukalah dengan air putih dan makanan yang manis

Selama berpuasa, tubuh kehilangan banyak energi dan kurang nutrisi. Gula atau makanan atau minuman yang mengandung gula bisa memberi asupan energi dengan cepat, sehingga tubuh pun cepat kembali segar. Bahkan disunahkan berbuka puasa dengan Kurma sebagaimana Hadist Nabi SAW. "Apabila salah seorang dari kamu berbuka, maka berbukalah dengan kurma. Jika tidak menemukan, berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu suci." (HR. Imam Lima). QHT-Rmd-11. Tapi perhatikan juga konsumsinya, jangan sampai berlebihan dan usahakan gula yang dikonsumsi alami, yang berasal dari buah-buahan. Idealnya, kita disarankan makan tiga butir kurma dan air putih, atau satu cangkir teh manis. Bisa juga berbuka dengan buah-buahan seperti melon dan semangka.

2. Hindari minuman terlalu dingin

Hindari minuman terlalu dingin. Minuman dingin bisa membuat perut cepat kenyang, sehingga kita kehilangan selera mengonsumsi makanan yang bergizi, yang tidak didapatkan tubuh selama berpuasa. Akibatnya, tubuh akan cepat lemas saat berpuasa esok harinya.

3. Beri jeda waktu untuk makan berat

Saat berbuka, biasanya kita cenderung kalap, ingin melahap semua makanan yang tersaji. Tapi tahanlah keinginan itu. Lambung perlu beradaptasi dengan makanan setelah lebih dari 12 jam kosong. Langsung ‘menghantamnya’ dengan makanan berat, akan membuat perut ‘kaget’ dan bisa menimbulkan perut kembung hingga sembelit. Setelah mengonsumsi makanan manis, berilah jeda waktu bagi lambung untuk mencerna makanan secara perlahan, kira-kira 10-15 menit. Baru mulai makan makanan berat, misalnya nasi beserta lauk dan sayur. Untuk lebih nyaman, kita bisa mengonsumsi makanan berat setelah pulang salat Tarawih.

4. Makan secara perlahan

Rasa lapar kadang bisa membuat kita kalap sehingga ingin mengunyah makanan lebih cepat agar bisa segera menghabiskan menu . Makan dengan cepat bisa mengganggu kadar gula dalam darah, sehingga kita akan selalu merasa lapar dan semakin semangat mengunyah makanan.
Otak membutuhkan waktu 15-20 menit untuk mengirim sinyal kenyang. Makan cepat dapat membuat kita mengonsumsi makanan berlebihan dan memakan kalori lebih banyak. Tentunya tidak mau dong setelah satu bulan berpuasa, tubuh justru akan jadi lebih gemuk.

Oleh karena itu, makanlah dengan pelan. Mengunyah secara perlahan akan memberi waktu bagi tubuh untuk menyerap glukosa dan kalori yang diperlukan tubuh, tapi mencegahnya agar tidak terserap berlebihan dan menjadikannya lemak.



Semoga bermanfaat.

Senin, 23 Juli 2012

HAL HAL YANG MEMBATALKAN PUASA


HAL-HAL YANG  MEMBATALKAN PUASA
Kita semua sudah mengetahui bahwa yang membatalkan puasa itu adalah : makan, minum dan berhubungan suami-istri bagi yang sudah beristri atau bersuami.  
Mengenai yang terakhir inilah Allah SWT menerangkannya di dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 187 sebagai berikut :
¨@Ïmé& öNà6s9 s's#øs9 ÏQ$uŠÅ_Á9$# ß]sù§9$# 4n<Î) öNä3ͬ!$|¡ÎS 4 £`èd Ó¨$t6Ï9 öNä3©9 öNçFRr&ur Ó¨$t6Ï9 £`ßg©9 3 zNÎ=tæ ª!$# öNà6¯Rr& óOçGYä. šcqçR$tFøƒrB öNà6|¡àÿRr& z>$tGsù öNä3øn=tæ $xÿtãur öNä3Ytã ( z`»t«ø9$$sù £`èdrçŽÅ³»t/ (#qäótFö/$#ur $tB |=tFŸ2 ª!$# öNä3s9 4 (#qè=ä.ur (#qç/uŽõ°$#ur 4Ó®Lym tû¨üt7oKtƒ ãNä3s9 äÝøsƒø:$# âÙuö/F{$# z`ÏB ÅÝøsƒø:$# ÏŠuqóF{$# z`ÏB ̍ôfxÿø9$# ( ¢OèO (#qJÏ?r& tP$uÅ_Á9$# n<Î) È@øŠ©9$# 4 Ÿwur  ÆèdrçŽÅ³»t7è? óOçFRr&ur tbqàÿÅ3»tã Îû ÏÉf»|¡yJø9$# 3 y7ù=Ï? ߊrßãn «!$# Ÿxsù $ydqç/tø)s? 3 y7Ï9ºxx. ÚúÎiüt6ムª!$# ¾ÏmÏG»tƒ#uä Ĩ$¨Y=Ï9 óOßg¯=yès9 šcqà)­Gtƒ ÇÊÑÐÈ  
Artinya :
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf *) dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.
Mengenai turunnya ayat ini terdapat beberapa peristiwa sebagai berikut:
a. Para shahabat Nabi SAW menganggap bahwa makan, minum dan menggauli istrinya pada malam hari bulan Ramadhan, hanya boleh dilakukan sementara mereka belum tidur. Di antara mereka Qais bin Shirmah dan Umar bin Khaththab. Qais bin Shirmah (dari golongan Anshar) merasa kepayahan setelah bekerja pada siang harinya. Karenanya setelah shalat Isya, ia tertidur, sehingga tidak makan dan minum hingga pagi. Adapun Umar bin Khaththab menggauli istrinya setelah tertidur pada malam hari bulan Ramadhan. Keesokan harinya ia menghadap kepada Nabi SAW untuk menerangkan hal itu. Maka turunlah ayat "Uhilla lakum lailatashshiamir rafatsu sampai atimmush shiyama ilal lail" (S. 2: 187) (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim dari Abdurrahman bin Abi Laila, yang bersumber dari Mu'adz bin Jabal. Hadits ini masyhur, artinya hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih kepada tiga orang atau lebih dan seterusnya. Walaupun ia tidak mendengar langsung dari Mu'adz bin Jabal, tapi mempunyai sumber lain yang memperkuatnya.)
b. Seorang shahabat Nabi SAW tidak makan dan minum pada malam bulan Ramadhan, karena tertidur setelah tibanya waktu berbuka puasa. Pada malam itu ia tidak makan sama sekali, dan keesokan harinya ia berpuasa lagi. Seorang shahabat lainnya bernama Qais bin Shirmah (dari golongan Anshar), ketika tiba waktu berbuka puasa, meminta makanan kepada istrinya yang kebetulan belum tersedia. Ketika istrinya menyediakan makanan, karena lelahnya bekerja pada siang harinya, Qais bin Shirmah tertidur. Setelah makanan tersedia, istrinya mendapatkan suaminya tertidur. Berkatalah ia: "Wahai, celakalah engkau." (Pada waktu itu ada anggapan bahwa apabila seseorang sudah tidur pada malam hari bulan puasa, tidak dibolehkan makan). Pada tengah hari keesokan harinya, Qais bin Shirmah pingsan. Kejadian ini disampaikan kepada Nabi SAW. Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 187) sehingga gembiralah kaum Muslimin.
c. Para shahabat Nabi SAW apabila tiba bulan Ramadhan tidak mendekati istrinya sebulan penuh. Akan tetapi terdapat di antaranya yang tidak dapat menahan nafsunya. Maka turunlah ayat " 'Alimal lahu annakum kuntum takhtanuna anfusakum fataba'alaikum wa'afa 'ankum sampai akhir ayat."  (Diriwayatkan oleh Bukhari dari al-Barra.)
d. Pada waktu itu ada anggapan bahwa pada bulan Ramadhan yang puasa haram makan, minum dan menggauli istrinya setelah tertidur malam hari sampai ia berbuka puasa keesokan harinya. Pada suatu ketika 'umar bin Khaththab pulang dari rumah Nabi SAW setelah larut malam. Ia menginginkan menggauli istrinya, tapi istrinya berkata: "Saya sudah tidur." 'Umar berkata: "Kau tidak tidur", dan ia pun menggaulinya. Demikian juga Ka'b berbuat seperti itu. Keesokan harinya 'umar menceritakan hal dirinya kepada Nabi SAW. Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 187) dari awal sampai akhir ayat. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dari Abdullah bin Ka'b bin Malik, yang bersumber dari bapaknya.)
e. Kata "minal fajri" dalam S. 2: 187 diturunkan berkenaan dengan orang-orang pada malam hari, mengikat kakinya dengan tali putih dan tali hitam, apabila hendak puasa. Mereka makan dan minum sampai jelas terlihat perbedaan antara ke dua tali itu, Maka turunlah ayat "minal fajri". Kemudian mereka mengerti bahwa khaithul abydlu minal khaitil aswadi itu tiada lain adalah siang dan malam.  (Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Sahl bin Sa'id.)
f. Kata "wala tubasyiruhunna wa antum 'akifuna fil masajid" dalam S. 2: 187 tersebut di atas turun berkenaan dengan seorang shahabat yang keluar dari masjid untuk menggauli istrinya di saat ia sedang i'tikaf. (Diriwayatkan oleh ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.)

*) I'tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.